Rabu, 15 Mei 2013

PERJUANGAN SANG IBU

melihat seorang Ibu yang terus menerus berjuang mencari nafkah untuk semua anak-anaknya., ia terus melangkahkan jejaknya untuk terus menghidupkan menjadi kehidupan yang layak. nafas yang ter-enggah-enggah, keringat yang bercucuran, alas kaki yang cukup ia kenakan. ketika ia pulang kerumah untuk beristirahat setelah mencari nafkah baru setengah hari tiba-tiba sang anak yang sudah dewasa menambahkan beban untuknya, si anak tersebut menagih kepada sang Ibu dimana anak itu ingin sekali sebuah hp bagus tapi dg harga yang sangat tinggi sekali harganya, sang Ibu terduduk lemas sekali dg dada yang sesak yang tak tau bagaimana memenuhi permintaan sang anak. "Ibu, Ibu aku ingin HP sekarang, aku iri dengan kawan-kawanku yang mempunyai HP canggih. berikan aku uangmu" teriaknya sentak di depan wajah Ibunya. sang Ibu tersebut menundung termenung di depan anaknya yang terus menyentak-nyentak dia, dalam pikiran sang Ibu apa yang ia harus lakukan untuk memeuhi permintaan anaknya dg keadaan hidup yang sangat tidak mencukup, makan yang hari-harinya dengan tempe goreng dan garam. "assalamu'alaikum" terdengar suara anak perempuan, anak ini adalah anak bungsu dari Ibu tersebut, anak tersebut heran melihat Ibunya yang duduk termenung, terdiam, dan menunduk di hadapan sang kakaknya. ia langsung datang menghampiri Ibunya dan memeluk Ibunya untuk bisa menenangkan hati Ibunya akibat sentakan dari sang kakak. sang kakak menantap tajam adiknya yang sudah duduk disebelah sang Ibu, adiknya yang di tatapin tidak sedikitpun takut "kau ini hanya tinggal enaknya saja, sehari-hari kerjaanmu hanya makan, tidur, merokok dan dll. taukah kamu mencari sebuah nafkah untuk kehidupan itu sangat susah, pergilah dan carilah nafkahmu sendiri dan kau akan mendapatkannya dg cara yang halal" sang adik memberi nasehat pada kakaknya, ia juga merasakan kesedihan sang Ibu yang dirasakannya. airmata sang Ibu tiba-tiba mengalir dalam duduk yang masih merenung "inikah balasannya kau kepada Ibu, yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kamu di dunia ini" nasehat terakhir dari sang adik. sang kakak menampar sang adik dg tamparan yang dipenuhi emosi yang membara. barang-barang yang seperti kursi, gelas, piring, dll. barang yang di dekat di sekitar sang kakak semuanya di hancurkannya, emosi yang terus meluap akibat nasehat dari adiknya "teruskan saja, pikiranmu itu tidak dewasa sedangkan uurmu sudah sangat dewasa. aku menginginkanmu mati, aku berjanji pada hidupku jika kamu mati aku tidak akan menangisimu walaupun kamu itu kakak aku yang hanya bisa menyakiti Ibu, aku adalah orng yang pertama tidak akan menangisimu, ingat kata-kataku" ucapan yang sangat tidak terbayangkan, lontaran tersebut sangat atau betul-betul sang adik keluarkan dimana sang Ibu mulai bangkit dari termenungnya.

sang Ibu keluar dan lanjut mencari nafkah kembali, ia ingin bisa mendapatkan uang yang bisa untuk membelikan HP buat anaknya. hari yang cerah dg sinar mentari yang hangat melengkapi Ibu yang sedang berjalan melangkahkan kakinya demi pekerjaan apapun yang ia dapatkan dari orang-orang. waktu petang hampir tiba, sang Ibu pulang dg membawa hasil uang yang cukup lumayan, Rp 135.000,- itu yang ia dapatkan hasilnya pada hari ini. setengah perjalanan pulang sang Ibu di datangi hujan yang cukup deras ia bingung bagaimana menyelamatkan uang yang ia dapatkan tadi agar tidak menjadi basah akibat hujan. sang ibu pergi mencari plastik, dan ia tidak mendapatkannya dan ia simpan uang itu dg cara ia genggam uangnya dg sangat kuat hingga sampai di rumah. ketika sang Ibu telah sampai di rumah sang anak bungsu langsung menyambutnya dg handuk yang hangat dan mengeringkan sang Ibu yang kebasahan. sang kakak telah menunggu juga Ibunya "apa yang Ibu dapatkan Hari ini" serunya dg melihat genggaman tangan sang Ibu. sang Ibu menggelengkan terus kepalanya karena sang anak membuka genggaman tangannya sangat paksa "jangan ambil uang itu, besok kita mau makan pakai apa" pintanya pada sang anak. sang anak memasang wajah senangya yg ia dapatkan uang yang cukup lumayan banyak dan langsung pergi meninggalkan sang ibu juga adiknya. "Ibu mandilah, saya sudah menyiapkan air panas buat Ibu, setelah mandi Ibu makan ya saya juga sudah menyiapkan makanan buat Ibu" ujarnya sambil memeluk sang Ibu "kamu dapat uang dari mana, nak. kamu kerja paruh waktu, cukup Ibu saja yang bekerja kamu fokus dg sekolah, ya" jawab Ibu dg sedikit tenang walaupun hatinya masih menangis. sang anak bungsu menggelengkan kepalanya bahwa ia berarti tidak bekerja, ia terus menanbung dan mengeluarkan uangnya dikeadaan mendesak. setelah sang Ibu dan anak bungsunya selesai makan bersama, mereka berdua tidur dan sang anak bungsu tidur di sebalah Ibunya dan memeluk sang Ibu saat tertidur.

Ufuk merah dan embun pagi yang dilengkapi hari ini sang anak membangunkan sang Ibu yang masih tertidur "Ibu..Ibu..Ibu bangunlah, ini sudah pagi" ujarnya sambil menepuk pundak sang Ibu tapi sang Ibu tak kunjung bangun, sang anak bungsu masih merasa kalau Ibunya masih mengantuk dan tak ingin di bangunkan, sang anak bungsu meninggalkan Ibunya mandi dan setelah selesai nandi sang anak bungsu membangunkan lagi Ibunya. sang anak sangat merasakan tidak enak, perasaan yang sangat aneh yang ia rasakan saat membangunkan Ibunya dari tidur. "Ibu..Ibu.." teriaknya histeris, sang anak memeriksa udara yang keluar dari hidung Ibunya ternyata tidak ada, nafas sang Ibu kini telah terhenti untuk selamanya. sang kakak yang melihat rumahnya di penuh dg pelayat sangat terkejut, mengapa dan apa yang terjadi yang ada di dalam rumahnya. ketika Jenazah yang ia lihat ternyata itu adalah Jenazah sang Ibunya yang ia durhakai selama hidup Ibunya. ia melihat sang adiknya menangis di antara orang-orang banyak dan sang kakak ikut menangisi Jenazah sang Ibu.

kini sekarang sang Adik telah lulus sekolah, dan kuliah ia menjadi seorang sarjana dan sang kakak mencari jalan hidup sendiri dan merasakan mencari nafkah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar